cerita dewasa Jadi Korban Maniak Seks

Awal cerita dewasa jadi korban maniak seks aku, sedang membanting pantatku belakang taxi ketika dering. Memanggil kuperhatikan jelas sekali bahwa nomor yang, sama dari kali panggilan tadi tapi karena. Merasa tidak mengenalnya sama sekali tidak menanggapinya, “kenapa tidak diangkat tanya sopir taxi yang. Sekilas melihatku lewat spionnya “buat paling paling, wartawan ‘bodrek’ menawarkan berita kemenanganku koran kelas. ‘teri’ bosen berurusan dengan mereka !” sahutku, sambil kuperhatikan sekali lagi secara kilas medali. Emas piala juara favorit kejuaraan binaraga kelas, junior taxi meluncur.

Kencang membawaku pulang rumah. Kontrakanku daerah radio dalam taxi masih melenggang, atas aspalan sudirman ketika nomor muncul lagi. Layar berdering berdering minta diangkat terpaksa kali, menerimanya dengan malas “hai andre sombong bener. Nggak terima telponku kenapa ” “sori mbak siapa, merasa nggak kenal anda ” “benar kita belum. Pernah saling kenal tapi selalu memantau kemajuanmu, dalam bertanding binaraga pokoknya selalu mengikutimu kemana. Kamu berlaga memamerkan tubuhmu yang berotot kekar, tapi indah seksi sekali senang sekali banyak. Teman temanku yang mengidolakan dirimu kupikir.

Masa, depanmu pasti cerah sekali dunia binaraga gimana. Kami kenalan lebih dekat lagi juga foto, foto bersama atlet idola kami bagaimana ” aku. Sejenak berpikir siapa mereka maksudnya kalau tolak, merasa merendahkan atau menyepelekan yang namanya fans. Atau penggemar fans atau penggemar apalagi wartawan, adalah jalur yang tidak boleh kulawan mereka. Harus kurangkul akrabi begitu nasehat teman teman, seniorku dunia olahraga yang banyak penggemarnya “baiklah. Dimana kalian semua tanyaku setelah menghelakan nafasku, sebuah daerah pemukiman elite disebutkan suara cewek. Permata hijau.

Segera minta sama sopir taxi, segera meluncur alamat yang dituju kuperhatikan tanganku. Sudah menunjukkan pukul tepat waktuku untuk istirahat, tapi demi fans rela membagi waktuku dengan. Mereka rumah mewah memang terlihat sepi gelap, dengan halamanya yang terlihat teduh berlantai tiga. Dengan gaya arsitektur spanyol yang unik bergegas, segera turun kuperhatikan sejenak taxi telah menghilang. Tikungan jalan kembali perhatikan alamat rumah yang, kutuju segera menyelinap masuk dalam halamannya setelah. Membuka sedikit pintu gerbangnya yang dari besi, dicat hitam hujan mendadak turun.

Dengan rintik. Rintik berburu lari kecil menuju teras yang, tinggi karena mesti menaiki anak tangganya aku. Dengan tidak sabaran menekan nekan pintunya yang, yang tampak sekali aneh bagiku sebab tombol. Berupa puting susu dari patung dada wanita, tidak berapa lama pintu model tarung kuku. Terbuka seketika berdecak kagum ‘ngiler’ berat melihat, figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang. Bertubuh seksi “mas andre temanku sudah sabar, nungguin biar kubawakan pialanya !” ujar gadis. Berusia sekitar tahun ramah sekali menyambar piala, olahragaku.

aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang. Basah sedikit sambil sejenak kuperhatikan gadis menutup, mengunci kembali pintunya “ng maaf belum kenalan. Gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak, tentara cowok menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya. Arahku sambil mengumbar senyun manisnya “oh tami, sahutnya menjabat tanganku erat erat hm halus. Empuk sekali jemari seperti tangan bayi tami, yang berkulit kuning langsat melirik sebelah mana. Dari balik korden muncul temannya semua seusia, dirinya “ayo pada kenalan !” sambung tami. malam tami memakai kaos.

Singlet hitam ketat, celana pendek kembang kembang ketat pula sehingga. Dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang, mulus halus bahkan dapat melihat bahwa tami. Tidak memakai jelas sekali terlihat pada bulatan, kecil yang menonjol kedua ujung dadanya yang kira. Kira berukuran “lina ujar gadis kecil lencir, berambut panjang sepinggangnya menjabat tanganku dengan lembut. Sekali gadis berkulit kuning bersih dengan dadanya, yang kecil tipis memakai kaos singlet putih. Ketat celana jeans yang dipotong pendek berumbai, rumbai lagi lagi lina gadis cantik beralis.

. Tebal sama seperti tami tidak memakai begitupun, dian gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti. Laki laki berambut pendek sebatas bahunya yang, kokoh kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat. Kuning celana pendek hitam ketat pula hanya, saja dada dian tampak paling besar kencang. Sekali lebih besar daripada tami cetakan kedua, putingnya tampak menonjol ketat aku dapat melihat. Pandangan mata mereka sangat tajam arah tubuhku, pikir maklum sebab idola mereka kini sudah. Hadir depan mata mereka “dimana foto foto, bersamanya tanyaku yang.

Digelandang masuk ruang tengah. “sabar dulu dong kita perlu ngobrol ngobrol, kenalan lebih dalam duduk bareng gitu santai. Saja dulu sahut dian menggaet lengan kananku, mengusap usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku. Diturunkan sebatas perutku “ouh kekar sekali berotot, penuh daging yang hebat sambungnya sedikit bergumam. Sembari menggerayangi putingku seluruh dadaku aku jadi, geli hendak menampik perlakuannya tapi kubatalkan membiarkan. Tangan tangan ketiga gadis menggerayangi dadaku setelah, mereka berhasil melepas jaketku kuakui sendiri juga. Menikmati perlakakuan istimewa mereka kini dibawa.

Sebuah, kamar yang luas dengan dinding yang penuh. Foto foto hasil klipingan mereka tentang kagum, sejenak mereka membiarkanku terkagum menikmati karya mereka. Tembok “bagaimana tanya lina mendekati merangkul lengan, kiriku lagi lagi jemari tangan kirinya menggerayangi. Puting dadaku kudengar nafas lina sudah megap, megap lalu dian menyusul memelukku dari belakang. Menggerayangi dadaku menciumi punggungku kini benar benar, geli dibuatnya “sudahlah lebih baik jangan seperti. Caranya katanya foto foto kataku mencoba melepaskan, diri dari serbuan bibir jemari mereka “iya. Betul sekali.

Lihat kemari andre !” sahut, tami yang berdiri belakangku aku segera membalikkan. Tubuhku seketika terkejut mataku melotot tidak percaya, dengan penuh ketidaktahuan ngerti semua “ada kalian. Merampokku tanyaku protes melihat tami sudah menodongkan, pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara. Arah kepalaku “ya merampok dirimu jiwa ragamu, semuanya pistol beneran kami tidak main main. !” sahut tami dengan wajah yang kini, jadi beringas ganas begitupun lina dian sebuah. Letupan menyalak lembut menghancurkan bunga pojok sana, terhenyak kaget mereka berdua memegangi.

Lengananku dengan. Kuat sekali hampir tidak percaya dengan tenaga, mereka “tidak foto tapi ruangan kami memasang. Beberapa kamera video yang kami setel secara, otomatis setiap ruangan kamera kamera semua berjalan. oTomatis sesuai programnya copot celananya !” ujar, tami membentak aku hendak berontak tapi dengan. Kuat dian memelintir lenganku “ahkk !” “jangan macem, macem menurut adalah kunci selamatmu ngerti !”. Bentak dian tersenyum sinis celana trainingku kini, lepas berikut sepatuku kaos kakinya lina sangat. Cepat melakukannya kini hanya memakai cawat hitam, kesukaanku.

Yang sangat ketat sekali mengkilap bahkan. Cawat tidak lebih seperti secarik kain lentur, yang membungkus zakar pelirku saja sebab karetnya. Sangat tipis seperti tali “kamu memang seksi, kekar ucap tami mendekati menggerayangi zakarku “iya. Sekarang udah nggak sabar !” sahut dian, mengelus elus pantatku “sama dong tapi siapa. Duluan sahut lina mengambil sebotol minyak tubuh, untuk atlet binaraga kulihat mereknya yang diambil. Lina yang paling mahal tampaknya mereka tahu, barang yang berkualitas “diam diam kata lina. Menuangi minyak tangannya begitupun.

Dian tami segera, saja jemari jemari tangan mereka mengolesi seluruh. Tubuhku dengan minyak bergantian mereka meremas remas, batang zakarku buah pelirku yang masih memakai. Cawat dengan penuh nafsu kini sadar mereka, fans yang maniak seks berat walau masih. Dengan buas tami merengut cawatku dengan pisau, lipatnya yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan, rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka bagaimanapun juga. Walau dalam situasi yang tertekan tetap normal, tetap terangsang atas perlakuan mereka “ouh sangat.

. Besar panjang gede sekali ucap dian kagum, senang sembari menimang nimnag zakarku sedangkan tami. Meremas remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga langsung melengking sakit “duh rambut kemaluannya. Dicukur indah apik !” sahut dian mengusap, potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat. Dengan mencukur rapi “auuhk jangan jangan sakit, !” ucapku yang malah bikin mereka tertawa. Senang lina sendiri menciumi daging zakarku menjilat, jilat buas pelirku tetap berdiri dengan kedua. Kakiku agak terbuka mereka dengan buasnya menjilati, menciumi zakar buah.

Pelirku serta pantatku “ouh. Jangan aauhk ouhhk aahkk !” teriak teriak, mulutku terangsang hebat hal membuat tami jadi. Ganas dalam mengocok ngocok batang zakarku sedangkan, lina gantian meremas remas buah pelirku sementara. Dian menghisap putingku memelintirnya sehingga putingku jadi, keras kencang kedua tanganku kini berpegangan pada. Tubuh mereka karena dorongan birahiku yang mendadak, kian menjerit jerit kecil nikmat teriakan mereka. Yang diselingi tawa senang kian menambah garang, perlakuan mereka atas tubuh telanjangku bergantian mereka. Mngocok ngocok zakarku hingga kian mengeras.

Memanjang, hebat bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot. Nyedot zakarku dengan memasukan dalam mulut mereka, sampai sampai mereka terbatuk batuk karena zakarku. Menusuk kerongkongan mereka “nikmat sekali zakarnya coba, diukur dian berapa panjang besarnya yakin sangat. Panjang !” ujar tami sambil terus mengulum, ngulum menjilati zakarku dian segera mengukur panjang. Besarnya zakarku “gila panjangnya sentimeter garis lingkarnya, senti apaan kita pasti terpuaskan pasti hebat. Kuat !” ujar dian kagum sambil mengikat, pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara. Kuat begitupun.

Pangkal buah pelirku diikat tali, sepatu sendiri sementara lina gantian kini yang. Mengocok ngocok zakarku sambil mengulum ngulumnya karuan, saja zakarku jadi tambah keras merah panas. Membengkak hebat otot ototnya mengencang ganas kian, menjerit jerit tidak kuat tidak kuasa lagi. Menahan spermaku yang hendak muncrat mendengar lina, mencopot lagi tali sepatuku batang zakarku pelirku. Cepat cepat mereka membuka mulutnya lebar lebar, depan moncong zakarku sambil terus mengocok ngocok. Paling ganas kuat “creet croot creet srreet, srroott creet !” menyembur spermaku.

Yang mereka. Bagi rata mulutnya masing masing bergantian mereka, menjilati sisa sisa spermaku sambil mengurut ngurut. Batang zakarku agar sisa yang masih dalam, batang zakarku keluar semua “hmm nikmat sekali. Enak !” ucap diam senang “iya spermanya, ternyata banyak sekali kental !” sahut lina. “ayo ikat ruang penyiksaan cepat !” perintah, tami berdiri diikuti lina dian sedangkan masih. Lemas rasa rasanya hancur badanku nurut saja, perintah mereka memasuki ruang penyiksaan apa pula. Mereka dengan cepat memasang gelang besi kedua, tangan.

Kakiku rantai besi ditarik atas kini. Tubuhku merentang keras membentuk huruf posisi badanku, dibikin sejajar dengan lantai yang kira kira. Setinggi satu meteran lampu menyorot kuat arahku, keringatku menetes netes deras “siapa kalian sebenarnya. Tanyaku memberanikan diri “diam pertanyaan boleh bertanya, pokoknya menurut kamu kini budak kami ngerti. !” bentak tami mencambuk dadaku punggungku dengan, cambuk yang berupa lima utas kulit yang. Ujungnya terdapat bola berduri sakitnya luar biasa, mendadak dian membuka lantai bawahku kaget rupanya. Bawah sana liang seukuran.

Kira kira lebar, senti panjang meteran lubang sedalam kira kira. Satu meteran terdapat tumpukan batu bara yang, membara panas sekali! pantas saja tadi kakiku. Sempat merasakan panasnya lantai ubin walau kini, tubuhku setinggi kurang dari meter dari bara. Tapi masih kuat merasakan betapa panasnya batu, bara uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang. “cambuk terus sirami dengan minyak tomat !”, perinta tami mencambuki kakiku sedangkan lina mencambuki. Dadaku dian mencambuki punggungku panas pedih semua, bercampur jadi satu bersamaan mereka juga mencambuki.

. Zakar pelirku yang masih setengah tegang ereksinya, batu bara yang tertimpa minyak tomat mengeluarkan. Asap panas yang segera membakar kulitku entah, menit keberapa bertahan yang jelas tidak lama. Kemudian pingsan saat terbangun ternyata sudah terbaring, atas ranjang luas empuk bersprei putih kain. Satin tapi kondisiku tidak jauh beda dengan, disiksa tadi kedua tanganku dirantai kedua ujung. Ranjang bawah sedangkan badanku melipat atas karena, kedua kakiku ditarik rantainya diikatkan kedua ujung. Ranjang atas kepalaku sehingga dalam posisi seperti, udang dapat melihat.

Anusku sendiri sebuah bantal. Mengganjal punggungku lampu menyorotku tiba tiba lina, sudah mengakangi wajahku telanjang bulat kulihat vaginanya. Yang mengarah wajahku bersih dari rambut kemaluan, rupanya telah dipangkas bersih “jilati nikmati lezatnya. Kelentitku vaginaku cepat !” teriak lina menampar, wajahku kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya. Menjejalkannya mulutku terpaksa mulai menjilati vagina seluruh, bagian dalamnya sambil menghisap hisapnya lina mulai. Menggerinjal gerinjal geli nikmat sambil meremas remas, sendiri duah dadanya puting puting susunya yang. Kecil kulihat selintas datang dian tami.

Yang, juga telanjang bulat sejenak mereka berdua saling. Berpelukan berciuman mereka ternyata lesbian lina segera, beranjak berdiri “lakukan dulu kami sedang mood. !” ujar tami mencimui vagina dian yang, berbaring sebelahku sambil menggerinjal gerinjal geli kedua. Tangan dian meremas remas sendiri buah dadanya, lina segera saja mengambil boneka zakar yang. Besar lentur segera saja lina menuangi anusku, dengan madu serta merta gadis menjilati duburku. Jadi geli kini jemari lina mulai mengocok, ngocok zakarku setelah sebelumnya mengikat pangkal buah. Pelirku secara.

Kuat “ouh aduh aahhk teriakku, mengerang sakit nikmat lina dengan cepat segera. Menusukkan boneka zakar plastik dalam lobang anusku, karuan saja menjerit sakit tapi lina tidak. Perduli zakar plastik sudah masuk dalam dengan, gila lina menikam nikamkan anusku menjerit jerit. Sejadinya sementara tangan satunya lina tetap mengocok, ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya. tiba tiba tami mengakangi wajahku mengencingi wajahku, “diminum minum pipisku cepat !” perintah tami. Menanpar nampar pantatku terpaksa kutelan pipis tami, yang pesing rasanya muntah lebih.

Baik menjilati. Vaginanya ketimbang meminum pipisnya tami tertawa ngakak, sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas. “gantian !”ujar dian menggantikan posisi tami pipis, lagi kini kenyang dengan pipis mereka tubuhku. Basah oleh pipis mereka lina masih menusuk, nusuk duburku dengan zakar plastiknya pelan pelan. Rantai dilepas tapi lina malah membenamkan zakar, plastik dalam dalam anusku kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas satu persatu memperkosaku “auhk aahk, ouhkk yeaah !” teriak teriak mulut mereka. Menggenjot atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku dalam, vaginanya.

“ouh ouhk tidak ahhk ahhk !”. Menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat, tertahan oleh tali ikatan cambuk kembali melecuti. Dadaku pokoknya tidak yang diam nganggur saat, tami menggagahiku lina mencambuk dian menetesi puting. Susuku dengan cairan lilin merah besar atau, menyirami lilin panas anusku saking tidak kuatnya. Kini jatuh pingsan lagi entah berapa lama, pingsan saat terbangun banyak spermaku yang tercecer. Perutku tidak rantai tidak lilin bahkan mereka, juga tidak sekitarku kemana mereka perlahan beranjak. Berdiri tertatih tatih mencari.

Pakaianku tubuhku penuh, barut bekas cambuk lilin mengering luar biasa. Sakit pedihnya tersisa kurasakan secarik kertas ditinggalkan, mereka bertiga untukku kubaca dengan muak geram. Trim atas waktumu tapi kami belum puas, menikmatimu kami pasti datang lagi untuk kepuasan. Kami kami pergi karena mangsa baru yang, lebih lemah tapi kuat seksnya kalau kamu. Tolak kami edarkan videonya awas kamu kini, adalah ‘anjing’ seks kami trims sampai jumpa.

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.